(Fiksi) Pulang

"Jadi, kamu mau ngomong apa? tegang gitu ih" terpaksa aku memulai pembicaraan setelah beberapa menit kami saling diam, mengaduk jus di hadapan masing-masing.
Dia mulai mengangkat wajahnya dan menatapku lamat. Aku mendengar ada tarikan nafas yang cukup dalam saat itu.

"Kamu dulu pernah bilang, perasaan manusia bisa berubah kapan saja, 'kan?" Tanyanya, masih dengan menatapku. Tatapan hangat itu. Aku mengangguk pelan.

"Kamu juga pernah bilang agar aku mengatakan apa saja yang mengganjal di hatiku, apapun itu..." lagi, aku mengangguk.
Kali ini aku mulai bingung dengan maksud pembicaraan ini. Beberapa menit ia hanya diam, tak melanjutkan bicaranya. Ah, aku mulai penasaran.

"Lantas?" aku balas menatapnya, lembut. Kemudian samar-samar telingaku mendengar tarikan nafas itu lagi, kali ini lebih dalam.

"Sekarang ini, entah mengapa perasaanku padamu tak semembahagiakan ketika di awal dulu." ia mengatakannya lirih, masih dengan tatapan hangatnya, tatapan kesukaanku. Tapi hatiku tersentak. Sakit, seperti baru saja tertusuk. Sekarang aku mulai paham arah pembicaraan ini, aku mulai bisa menebak kalimat menyakitkan apa yang akan kudengar setelah ini.

"Jadi?" Aku memberanikan diri bertanya, berharap semoga saja yang di pikiranku itu salah.

"Perasaanku telah berubah padamu, entah sejak kapan. Mungkin sejak kamu kenalkan aku ke sahabatmu itu." Ia menjawab, kali ini tatapannya tak lagi mengarah padaku, tatapannya berpindah ke jendela di samping meja kami, seperti menerawang sesuatu.

Aku diam, tak tahu harus bagaimana menanggapi. Jangankan bersuara, bernafaspun dadaku rasanya sesak sekali. Air hangat mulai merembas di ujung-ujung mataku. Suara di sekaitar bahkan tak dapat lagi kudengar. Semuanya samar.

"Maaf" ucapnya.

"Aku akan coba buat paham. Tapi sekarang aku mau pulang." Bergegas aku berdiri. Meski tubuhku lemas sekali rasanya, aku mau pulang, dadaku sakit, aku mau pulang.

"Aku anter, ya?." Aku menggeleng dan beranjak.

Entahlah. Aku tidak bisa bilang aku tidak marah, tapi juga tidak bisa menyalahkan perasaannya yang berubah. Hanya saja, terlalu lama di dekatnya bisa membuat sakit di dadaku makin parah.

Aku berjalan terus, entah kakiku mengarah kemana. Air mata yang mengambang di mataku membuat pandanganku buram, semuanya samar. Aku terisak sepanjang jalan pulang.
Tiba-tiba ada cahaya yang begitu terang persis di depanku, dibarengi klakson dan jeritan orang-orang di sekitar. Aku tersentak. Orang-orang terlihat berkerumun dan cemas. Kudapati tubuhku tergeletak di tepi trotoar.

Aku pulang, jauh sekali. Kau sungguhan tak perlu mengantarku.

Comments

Unknown said…
lagi galau nih... alur ceritanya bagus banget
lama ngk main2 kesini syg.. mw baca2 dlu ya :}
R10 said…
kalau pacaran putus ga dilindungi hukum, kalau nikah cerai dilindungi hukum

Baca Lainnya

Seumur Hidup

Pada Malam-Malam yang Biasa