Posts

Showing posts with the label Kawan

Seorang Kawan dari Medan

Kalau kamu pernah tinggal di Jogja, kamu barangkali setuju bahwa jalanan di kota ini ajaib selepas hujan. Saat basah, entah bagaimana, tiap sudutnya menjelma cermin . Ia memantulkan  kelebat-kelebat  hari lalu , kadang  terang dan bising, kadang muram dan hening. Aku nggak tau gambaran mana yang muncul di kepala Omplong waktu kemarin pulang ke sini, atau mungkin   justru  nggak ada  sama sekali sebab   d ia nggak cukup sentimentil perkara begituan. (Oh, aku menyebut kedatangannya dengan ‘pulang’ agar ia tau ia selalu boleh menganggap tempat ini sebagai rumah.) Konon, manusia memang lahir dengan pilihan. Tapi ada yang namanya  “ketarik showroom” , istilah  Yunani  buat orang yang merantau lalu dipaksa pulang. Umumnya, itu nasib yang melekat buat orang-orang yang lahir sebagai anak terakhir.  Jaga rumah, ngurus orang tua, melanjutkan bisnis keluarga, atau satu dua alasan lain.  Nah, nasib inilah yang menimpa Omplong, kawanku dari...
Dibilang very nice sama mbak bosor. Diucapin selamat bulan lahir sama pak kaji, diingetin isi baterai dan hati-hati sama Barci. Motorku diisekke angin, dicek remnya sama Nopi. Dibaleni dari Babarsari ke UPN karna semelang aku ra isa nyebrang. Difotoin candid banyaaakkk sekali sama mbamel karna katanya, kasian aku nggak punya foto. Dibilangin masadi buat bandel-bandelin perasaan biar bertahan. Oh, hari-hari yang manis, dan hangat… Rasa-rasanya, kerap kali aku bilang nggak punya temen tiap bergurau. Padahal kalau menengok ke belakang, momen demi momen, kayaknya aku ni hidup dari teman-temanku. Jahat sekali kalau aku selalu bilang begitu, saat satu-satunya yang bisa aku kasih kembali ialah pengakuan bahwa aku hidup dari mereka. Huhu, sayang banget sama teman-temanku. Semoga mereka semua disayang tuhan dan dikasih banyak yang baik-baik 🥹🍀

Malam Jatuh di Surabaya

Surabaya ternyata tidak sepanas reputasinya. Hahaha Dua hari aku singgah di kota itu, dua hari pula ia diguyur hujan. Aku nggak tau sih dia memang ingin mencoba ramah aja atau kenapa. Tapi toh memang banyak hal tidak langsung menunjukkan wataknya pada perjumpaan pertama. Termasuk manusia. Barangkali kota ini juga. Surabaya nggak ada mirip-miripnya dengan Jogja; tempatku tinggal. Di sini, jalan raya termasuk lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan dan hunian vertikal berbaris macam parade hutan beton. Kalau Jogja seperti seseorang yang mengajakmu duduk berbincang, Surabaya layaknya orang yang berseru;  “sing obah tanganne, ora cangkem-e!!” Sebenarnya, aku terbilang mumpuni dalam hal memutus silaturahmi, tapi kali ini berbeda. Nggak tau kenapa. Jadilah sehari sebelumnya aku menghubungi Togok, minta diajak ke tempat yang ikonik dari kota ini, nggak perlu istimewa, sebagaimana  Filkop , atau  Olive Chicken  di Jogja. Yang tidak kubayangkan, ia membawa...

Selamat Buat Pernikahanmu, Ndul!

Melihat kawan dekatmu menikah rupanya membawa perasaan yang cukup kompleks. Pernikahan Gandul adalah momen pertama yang membuatku sadar akan perasaan itu. Ada gembira, tentu. Ada haru. Dan sesuatu yang tadinya ingin kusebut ‘sedih’—meski kemudian aku rasa kurang tepat. Barangkali ia hanya kecemasan yang menyamar. Kalau Gandul dipek Majid, aku tanggung jawab siapaa😭 Tapi lebih dari itu, melihat bagaimana ia patah dan sembuh secara produktif (alias bola-bali😭) sampai akhirnya di titik sekarang, rasanya begitu lega. Di kepalaku, ia kawan paling  expert  soal asmara. Pengalamannya luar biasa, dan seperti yang kita tau, nggak harus selalu berhasil untuk dibilang expert . Kegagalan juga sesuatu yang sah kita sebut pengalaman, malah katanya paling mahal, wkwk. Pun memang, nggak  semua orang punya sesuatu yang layak dikenang dengan begitu menyakitkan. Meski di depannya aku sering bilang kelakuannya bodoh, ada bagian lain dalam diriku yang memberinya tepuk tangan untuk semua keb...

Surat Buat Teman-Temanku

Rasanya ingin bilang ke semua teman-temanku, bahwa waktu kita lagi sama-sama, silahkan jadi versi palimg kacau dari dirimu kalau memang itu yang sedang kamu lalui. Kamu boleh taruh kepalamu di meja saat pesanan makan tak lekas datang, kamu boleh menopang dagu meski cemberut bikin kantung matamu nampak lebih dari satu, boleh murung, boleh melamun dan nggak perlu menanggapi tiap obrolan apalagi maksa lucu. Aku memberi ruang buat jadi dirimu sendiri sebab barangkali hanya itu yang bisa kubagi. Doa baik untuk sekelilingmu, sekelilingku.