22 yang Ganjil
"Pada setengah hidup, kita mencari muara--serupa udara."
πΎπΎπΎ
Hari ini 22 yang ganjil. Menulis beberapa yang mampu kupahami tentang diri, meski belum seluruhnya, setelah selama ini:
☀
Aku tidak menyangka bisa sejauh ini. Dan rasanya biasa saja. Jauh dan tidak kemana-mana adalah realita yang buruk. Tapi ya sudah, sesukaNya.
⭐
Aku belum punya cita-cita. Guruku tertawa waktu bertanya apa cita-citaku dan aku bilang ngga tau. Katanya, bagaimana anak seumuranku (dulu) hidup tanpa cita-cita? Kenyataannya memang aku ngga tau pingin jadi apa, sampai sekarang. Bahkan aku tidak cukup berani untuk bilang pingin jadi petani sayur dan buah karena aku tahu aku tidak cukup telaten dan sabar. Akan kupikir-pikir lagi.
π
Beberapa menilai aku baik. Sepertinya aku hanya jinak. Aku ngga manut-manut amat sama Tuhan tapi masih takut neraka. Aku tau hari ini aku brengsek tapi masih percaya Tuhan baik seterusnya.
Lagipula aku tidak cukup punya uang untuk jadi terlalu nakal.
π«
Aku pernah jatuh hati bertahun lalu, barangkali reda, barangkali masih. Entahlah. Ia punya laut di mata kanannya dan hutan di mata kiri. Sesuatu yang magis, yang tenang sekaligus mengerikan. Segala yang padanya dan bersamanya adalah yang pertama bagiku. Sayangnya ia terlalu baik dan aku kelewat bodoh.
☄☄
Aku tidak pernah berbakat dalam menggambar apalagi main gitar.
September, hari pengulangan, 2017
Comments