Seorang Kawan dari Medan

Kalau kamu pernah tinggal di Jogja, kamu barangkali setuju bahwa jalanan di kota ini ajaib selepas hujan. Saat basah, entah bagaimana, tiap sudutnya menjelma cermin. Ia memantulkan kelebat-kelebat hari lalu, kadang terang dan bising, kadang muram dan hening. Aku nggak tau gambaran mana yang muncul di kepala Omplong waktu kemarin pulang ke sini, atau mungkin justru nggak ada sama sekali sebab dia nggak cukup sentimentil perkara begituan. (Oh, aku menyebut kedatangannya dengan ‘pulang’ agar ia tau ia selalu boleh menganggap tempat ini sebagai rumah.)

Empat tahun lalu Omplong, kawanku dari Medan, membuat keputusan pulang ke kampung halaman setelah tujuh tahun mengais gelar sarjana di Jogja. (Sebenarnya kupikir ditarik showroom agak janggal disebut keputusan.)

Aku tau sebenarnya dia cukup lama bersiap, toh jauh hari Tan Malaka sudah bilang bahwa idealisme akan jadi barang mewah tarakhir yang kita punya selagi muda. Kamu bisa menghabiskan tujuh tahun buat memanjangkan rambut sampai punggung sambil teriak lawan rezim, tapi kalau mamak bilang pulang, tak ada kata selain tunduk.

Omplong kawan yang berharga. Aku mau bilang ia kawan yang baik tapi ada semacam dilema etis sebab kelakuannya lebih mirip begundal, Ferry Irwandi pasti nggak like. Tapi konon, manusia bisa jadi apa saja, tergantung berapa banyak fermentasi yang ia konsumsi. Kadang Omplong jadi musisi, tak jarang olahragawan, sesekali ia menjelma Soe Hok Gie. Pernah suatu hari, setelah tiga hari berturut-turut mengkonsumsi saripati tebu yang sudah disimpan lama sama warlok Solo, cairan itu memaksa keluar lagi dari kerongkongan--hampir bersama dengan nyawanya. Ia berakhir tidur di samping saluran air, berkali memanggil-manggil nama tuhan, dan mamaknya. Aku? Tentu mengambil peran terbaik seorang kawan sejati: nggoblok-nggoblokke.

Omplong manusia oportunis paling tidak perhitungan yang kukenal. Oportunis tapi nyah-nyoh. Dia punya andil besar dalam proses tumbuh kembangku selama di Uwin. Pokoknya, jauh sebelum presiden gendut itu punya gagasan memberi makan gratis buat masyarakat, aku sudah lebih dulu merasakan manfaatnya—meski tak selalu bergizi. Aku juga nggak perlu khawatir soal anggaran, orang tua Omplong punya perkebunan sawit dan ketiga kakaknya bekerja sebagai abdi negara. Aman pokoknya~

Tapi yang paling mengendap di ingatanku sebenarnya soal lain. Suatu hari dompetku hilang dan aku pinjam dua ribu rupiah padanya buat tambah-tambah beli bensin. Tak disangka, Omplong menyerahkan padaku selembar dua puluh ribuan. Lebih tak disangka lagi, rupanya uang itu pun hasil dia pinjam juga dari kawan lain. Bjiiir bapak miskin ibu miskin, teman-teman juga missqueeeennn😭

Kalau dipikir-pikir, nasib lah yang membawa kami berteman, tak ada alasan selain karna terlanjur kenal. Itu saja. Toh kalau relasi harus punya nilai tukar dan menguntungkan, jelas berteman denganku semacam investasi bodong buat dia. Kebetulan saja kami punya kecocokan dalam menertawakan hal remeh, juga sportif dalam melakukan hal-hal bodoh. Misalnya, suatu malam kami pernah berjalan kaki menyusuri rel kereta antara Timoho-Sorowajan.


“Plong, ini kalo ditaruh batu kesendat nggak keretanya?”

“kenak hantam besi ya pecah lah dia”


Kami saling tatap beberapa waktu sampai akhirnya Omplong menaruh kerikil cukup besar tepat di besi rel. Ia tahu aku ragu, aku paham ia terdorong buat memvalidasi jawaban sok taunya. Kami terpingkal saat beberapa waktu kemudian mendapati batu itu akhirnya hempas saat kereta lewat. Terpelanting begitu saja, bukan pecah apalagi menghentikan kereta. Sebuah rasa ingin tahu yang menakjubkan andai kami melakukannya saat usia tujuh, bukan lebih dari dua puluh.


Di malam lain jelang dini hari, kami iseng mengejar mobil pemadam kebakaran buat nonton aksi heroik mereka secara langsung, tapi motor kami berakhir di sebuah sentra industri etanol di bilangan Solo Raya, dan pulang ke Jogja dengan sekardus penuh fermentasi tebu—tentu saja tanpa helm sebab niat awalnya memang cuma ke burjo.


Omplong juga gemar komentar soal apa dan siapa saja yang ia lihat. Kamu yang membaca tulisan ini, entah siapa, barangkali kita pernah bersinggungan di suatu tempat macam warung soto atau jalan di gang sempit, dan kalau penampilanmu terlalu klimis, atau justru terlalu kemproh, maka bisa jadi kamu pernah ada dalam obrolan kami.


“cuk, punk kok mangan neng warung padang”

“montore Scoopy meneh”

“ra masuk!!”

“kandani Plong, ra kaffah blas!”


Katanya, waktu terjauh yang dapat ditempuh ingatan biasanya soal masa-masa sulit yang dilalui bersama kawan terbaik. Tapi pertemanan kami mungkin nggak semelankolis itu. Waktu-waktu kami dominan diisi dengan kelewat banyak tertawa dan membual satu sama lain.

Kalau menengok ke belakang, sebelas tahun lalu, ingatan pertama yang aku punya soal dia adalah soal sepotong sosis. Kala itu aku kebagian tugas jaga api unggun, di tengah hutan dan rasa kelaparan, terpaksa aku harus membagi sepotong sosis yang aku punya dengannya, karena pas mau makan dia terlanjur lihat. Aku nggak punya cukup waktu buat ngumpetin dulu sosis itu, dan nggak tega juga kalau harus makan sendiri. Akhirnya sepotong sosis yang aku sayang-sayang itu kupotong jadi dua dan kubagi dengannya. Fak lah. Ndadak weruh.


Sebelas tahun melesat, Omplong yang pamit pulang buat membangun desa kini sudah menikah. Sudah jauh dari khamr dan jadi penyayang petani. Nggak tau kerjaannya disebut apa. Selama tiga jam nemenin napak tilas jalanan Jogja, ingatanku sibuk merangkum semua yang saat ini sedang kutulis, sementara dia banyak kali cakapnya, tapi perkara-perkara yang aku nggak begitu ngerti. Haha


Wis lah, sampai ketemu lagi, cuk! Semoga Putri khilaf sampai maut memisahkan.




Comments

Arhtant said…
Seneng ya punya teman suka nulis..
Boleh gak kita berteman? Siapa tau aku juga diabadikan dalam cerita seprti ini…*ngarep🤭

Anw nice story!
Hallo Ikaaa, apa kabs. Sudah lama sekali tidak main ke sini, dan nggak nyangka Anda masih menulis, dan masih bagus. Seneng bgt pas baca tulisan temen-temen lama yang masih aktif.

Soal Kemprong, dari bagaimana Anda menyebut namanya dan kelakuannya, sudah kebayang gimana asiknya punya temen aneh kaya gitu. T-tapi kok gue ngerasa ada siri gue di cerita kemprong yak wkwkwwk
Azura Zie said…
Assalamu'alaikum apakabar ika?

Baca Lainnya

Seumur Hidup

Pada Malam-Malam yang Biasa