Seumur Hidup

Suatu hari, kamu berhasil tidur sebelum tengah malam karena tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi rasa bersalah. Hidup hampir tidak pernah benar-benar beres, dan tak semua yang kacau menunggu ditebus. Kamu sudah memaafkan dirimu sendiri. Entah untuk bagian mana. Semoga semuanya.

Kamu tidak lagi takut kehilangan. Tidak takut tergantikan. Bisa jadi karena memang tidak ada lagi yang tersisa. Bisa jadi karena kamu akhirnya paham: tidak ada yang benar-benar kamu miliki. Kita miliki.

Kamu tidak lagi takut terluka. Tidak lagi takut dilupakan. Kamu mungkin tetap ringkih, tetapi doamu lebih kuat, sabarmu lebih banyak. Kamu masih ingin menjadi bagian dari orang-orang, tetapi sudah mengerti bahwa pada akhirnya kita adalah apa-apa yang tinggal di kepala mereka. Tak ada yang bisa kamu lakukan selain membiarkanmu diingat sebagaimana pikiran mereka, perasaan mereka.

Kamu tidak lagi merasa tertinggal. Tidak lagi merasa tersisih. Tidak lagi merasa sebagai kubangan sementara yang lain punya arusnya sendiri. Kalaupun iya, kalaupun benar, kamu sadar perkara-perkara begitu sungguh di luar kesanggupanmu.

Suatu hari, kamu bangun dengan perasaan ringan. Tidak sedih. Tidak pula terlalu gembira. Biasa saja. Dan rupanya, parasaan semacam itu boleh juga. Segalanya sudah kamu terima sebagai sesuatu yang memang pernah dan sedang terjadi. Beberapa hal terambil. Beberapa orang tidak kembali. Beberapa keputusan buruk akan tinggal sebagai koreng yang kamu bawa seumur hidup. Tetapi semuanya sudah kamu anggap impas.

Kamu tidak lagi berjalan dengan tergesa. Kamu melakukan ini itu dengan tertata, sesuai ritmemu. Tidak ada lagi benang kusut di kepalamu. Tidak ada lagi dorongan untuk terus melakukan sesuatu. Kamu bisa duduk diam tanpa merasa harus menyelamatkan diri. Tidak perlu terus mengoceh, tertawa, atau bepergian hanya karena tidak tahan berlama-lama dengan dirimu sendiri.

Suatu hari, semua ini tidak lagi terasa terlalu berat untuk ditanggung.

Suatu hari, kamu akan bilang padaNya bahwa kamu ingin sekali melakukannya, tetapi kamu memilih tidak. Kamu memilih menjalaninya senapas demi senapas. Meski rasanya lama sekali, jauh sekali.

Tapi toh, selamanya cuma seumur hidup.

 


Comments

Pluviophile said…
suatu hari itu ,kita amini dulu..
Anonymous said…
Masih nulis ternyata 😀
Lail said…
Ika gimana kabarnyaa?

Baca Lainnya

Pada Malam-Malam yang Biasa