Posts

Kesempatan

Beberapa kali kesempatan terlewat karena kebodohan sendiri. beberapa hal yang barangkali bisa jadi baik, berakhir buruk, atau setidaknya berakhir gitu-gitu aja, karena terlalu penakut. Ampun, Tuhan. Ampuni dan jangan kapok memberi jalan. Saya sadar hidup memang nggak bisa kalo pengennya mulus-mulus aja. Pasti pakai kesandung, pakai lelah, malah mungkin harus pakai tersesat dulu untuk sampai.  Dan, saya tidak seberani itu berjalan terlalu jauh untuk nantinya menghadapi ketakutak-ketakutan itu sendirian. Allah yang baik, minta kesempatan lagi, boleh?

Mengantar Matahari Pulang

Image
              Aku mengendarai motor dengah kecepatan tinggi dari Sewon-Uwin, lantas berlarian menuju lantai empat perpustakaan, berbuat usil supaya Bapak-bapak yang sudah lebih dulu menempati sudut kesuakaanku akhirnya mengalah pergi. Saat kemarau, dari sini matahari akan nampak indah sekali. Bulat dan kemerahan--seperti telur mata sapi. Aku ingin mengabadikannya dan menunjukkan padamu kalau-kalau besok kita bertemu. Sayang kali ini aku terlewat, matahari sudah pulang.           Sudahlah, ini saja kutunjukkan matahari dalam perjalanan pulang yang kupotret dari pinggir jalan. Mengantar matahari pulang dari sini mungkin bisa lain waktu. Mungkin bisa bersamamu.

Tujuh Hari Dipeluk Merapi

Image
sumber                 Desember menapaki hari pertamanya, dan hujan tentu akan jadi cuaca yang biasa untuk kedepan. Gerimis kala itu mengiringi kami berdelapan ke Merapi. Jeri, Olan, Miftah, Arif, Lisma, Ulfa, Nisa, dan saya; peserta basic camping 28 Mapalaska.        Kakak-kakak senior, yang kami panggil instruktur, membawa kami tujuh hari lamanya di belantara itu. 4 hari hidup dengan membiarkan helai-helai mie instant mengisi perut, dan 3 hari survival dengan terpaksa memakan ular, kadal, dan cacing. 7 hari yang dibumbui push up dan sit up. 7 hari yang gigil dan bau, perih luka baret sana-sini. 7 hari yang membuka semuanya, membuat keluarga baru kami saling memahami. 7 hari yang tanpa gambar, tapi akan abadi di kepala dan hati kami. Semua terekam jelas di kepala, di kaki merapi.

(Fiksi) Menjemput Ibu

Image
sumber gambar "Ayah, ini sudah hampir petang, kita pulang, ya?" ini entah yang keberapa kalinya aku mengajak ayah pulang, tapi nampaknya ia belum juga mau beranjak. "Sebentar lagi, ya. Lagipula malah asyik   to nduk   kalau   kita di sini sampai malam" benar, ayah belum mau pulang. Padahal sudah sejak pagi aku mengantar ayah ke stasiun untuk menjemput ibu, tapi ibu tak juga nampak keluar dari gerbong kereta manapun yang kami perhatikan seharian ini. " Nduk, dulu, waktu ayah sama ibumu masih muda, ibumu selalu senang diajak jalan kaki malam-malam. Dia senang lihat lampu-lampu sepanjang jalan." Ayah memulai ceritanya. Seperti biasa, matanya selalu berbinar ketika bercerita soal ibu. Sebenarnya ayah sudah sering sekali menceritakan hari-harinya waktu muda bersama ibu, aku sampai hafal, tapi biarlah. Mendengar suara tuanya bercerita bagiku masih menyenangkan meski ceritanya itu-itu saja. “Iya ayah, aku juga senang lihat lampu-lampu di ...

(Fiksi) Temu Berikutnya

Image
9images.com                     Sore yang tenang, satu dua rintik gerimis tampias membasahi kaca bus yang kutumpangi. Alunan lagu-lagu Payung Teduh reflek membuatku lirih bersenandung, ditengah deru mesin yang menyala sejak beberapa menit lalu, nampaknya sang sopir sengaja memanaskan mesinnya sebelum mengantar kami beranjak pulang. Pulang yang nantinya, akan menarikku untuk selalu kembali. "Suka Payung Teduh juga?" Tanya lelaki yang tiba-tiba ada di hadapanku, aku tidak tahu sejak kapan ia memperhatikan. "eh, lumayan"  jawabku sekenanya, canggung. "sama dong!”  lelaki itu tersenyum lebar, raut wajahnya cukup ramah untuk orang yang baru kenal, bukan mencurigakan, rautnya justru menyenangkan. "Oh ya?apa yang bikin kamu suka?" "Ya...karena enak didenger aja, teduh. Kalau kamu? "  "mm....entah, they just stole my heart with their lyrics" "hahaha   apalagi bag...

Sampai Jumpa, Teman-Teman TEKAJE2!

Image
*Kelas Sistem ruang disekolah kami kan moving class gitu ya, jadi tiap ganti jam pelajaran trus mau ulangan, lari-lari deh kami, pokoknya yang paling lamban berati penghuni meja paling depan. Tragisnya, kata orang, posisi paling depan akan membawamu ke peringkat paling belakang. Tapi kayaknya itu takhayul. Aku kan selalu duduk dibelakang tapi kok rangkingnya…..(sebagian teks hilang) Tiap jam kosong, anak laki-laki selalu berubah jadi grup lawak kayak OVJ dan anak perempuan tiba-tiba jadi host setajam Silet. Kecuali Nurna dan Rinda yang selalu berbusa busa ngomongin oppa korea. Atau mbak Siti, Rindut, mbak Atun, dan Malia yang…aku nggak tau sih mereka ngomongin apa, aku nggak tertarik nyimak karna seringnya mereka tetep bahas pelajaran dijam kosong. Bukan topik yang aku banget hahaha Mukhri dan Raka yang selalu usil. Ernest ketua kelas orde baru yang berkuasa dari masuk sampai lulus, Muhammad Grup yang wira wiri bawa stick PS, dan banyakkk lagi orang aneh lain. Pokoknya satu kelas cuma ...

KK Reg. Jogja : Komunitas Sakinah Mawaddah Warohmah~

Image
Assalamu'alaikum, aha lama nggak nulis :/ postingan kali ini khususon nyeritain komunitas blog yang aku ikutin, Kancut Keblenger regional Jogja. Jadi, kan awal-awal 2012 lalu aku gabung di komunitas blogger, namanya Kancut Keblenger, iya namanya emang bikin greget greget gimanaaa gitu ya. Dulu anggotanya masih 1000-an, dan aku ngerasanya cuma butiran debu. iya tak liat liat anak-anak KK hebat-hebat ngeblognya, tulisannya bagus bagus, sedangkan blogku cupu isinya beneran curhatan random :3 terus selama beberapa waktu cuma jadi anggota ghaib, cuma follow-follow post aja tapi ngga pernah komen, cuma baca-baca blog kakak-kakak aja, dulu tuh ada kapunih teh ayu mas anu masparit mas aih bang ujay mbak lin banyaaak lah pokoknya, tapi ngga pernah komen juga, soalnya takut nanti kalo komen mereka iseng main-main ke blogku terus aku malu blognya cupu :| tapi ternyata, anak-anak KK sumpah ramah banget, pas aku akhirnya ikutan bikin thread perkenalan, banyak yang komen-komen gitu terus ...

hari sedih terus bahagia

hari ini sedih, hapeku rusak, eh engga rusak sih. tapi yaaa gitu :/ Ika : Udiiiiiin hapeku diinnn tuluung Udin : ngopo? Ika : Kegembooook raiso le mbukak, tulung heee :( Udin : lah ya tinggal masukkin imel Ika : ini nggak bisaaaa datanya off Ajiji : lha kowe ngopo ka hape disandi barang? kowe kan jomblo emang nduwe privasi? Ika : ngga usah brisik kamu Jiii Pras : *usak-usek* ini kok nggak mau masuk rekonfigur ya Ka? Ika : lah emang kalo hape bagus ada ya Pras? Pras : iyaaaa Ika : lha iki emang hape elek Pras :/ Udin : *usak-usek* Ka, ini harus di fles Ka Ika : nanti datanya ilang semua? Udin : ho'o.... tapi rak rapopo to kowe kan jomblo ra ono sing berharga tapi Udin baik sekali, nanti dicariin sofware pembobol biar nggausah difles. walopun nggak ada poto orang ganteng di hape ini, walopun nggak ada yang harus cepet cepet dikabarin, semoga bisa ya Allah. kemudian tadi lesnya bahagia. soalnya tadi aku nyatet lengkap trus merhatiin yeee. padahal sih ngga bawa buku le...

Postingan Cerita Rikuesnya Mbakndut

Image
*abis olahraga* *ganti baju* *satu kamar bertiga*  mbakndut : Kaa, kamu kok nggak bikin cerita yang kemarin? ika : *usakusek pake sragam* hehe nggak sempet ah mbak mbakndut : ka kamu harus bikin ceritanya Ka, kamu harus sebut namaku, kamu harus bilang kalo kamu ke kulonprogo nggak tau jalan pulang dan aku yang gambarin denah buat kamu. kamu harus bikin ceritanya ka! ika : iy...iya, mbak -,- *lupa* *tadi pas di lab*  mbakndut : ikaaa mana ceritanya kamu kenapa belum bikiiin? ika : ehehe aku belum sempet mbaaaak nanti yaa insyaallah mbakndut : iyaaa kamu jangan lupa pasang foto yang kita asik-asikan trus kamu nggak ikut ya kaa harus! ika : ('_\\\) iya, mbak, iya *** baiklah, ini satu postingan khususon mbakndut loh, spesial loh~ jadi, hari minggu kan abis pengajian ahad legi kita ber.......ah aku lupa ada berapa orang, banyak pokoknya itu mau bermain yaa. nah kita bermain kerumah mbak Atun. dan.rumah.mbak.atun.itu.jauh.sekali.loh.pemirsahhh. di kulonprogo ...

(Fiksi) Cincin Tua

Image
Aku sudah kehabisan akal menolak lamaran laki-laki aneh ini. Berkali-kali kubilang aku telah memiliki pasangan, berkali-kali ia datang berharap aku telah berubah pikiran. Seminggu yang lalu, aku bertemu dengannya di toko perhiasan tempat kakakku bekerja. Lebih tepatnya, dia membuntutiku. Di depan banyak orang dia memaksaku menerima lamarannya, menawarkanku berbagai macam cincin. Gila, dia pikir aku akan terima hanya karena ia kaya? Aku teringat cerita kakakku mengenai cincin turun temurun yang dipakai bosnya di toko tempatnya bekerja. Itu cincin sudah dari zaman neneknya, tak mungkin ada yang masih membuatnya sekarang ini. Jadi aku minta saja dia memberikan cincin persis yang seperti itu, cincin lama, bukan baru.  “Aku hanya ingin cincin seperti yang dipakai pemilik toko emas itu, baru aku akan menerimamu. Titik!” Sialnya, dia bahkan tidak menyerah, tanpa kuduga, ternyata dia nekat bertanya pada pemilik toko emas itu. Katanya, saking lawasnya cincin itu bahk...