Sehari, dan Sehari Lagi

‘Anjing! Hidup berjalan lebih jauh dari yang kukira, dan tak pernah sampai pada apapun.’

Suara itu datang dari kepalaku, saat seorang kawan membuka obrolan.

“Jan, taun ini kamu 31”

Aku menatapnya, dia menutup muka. Barangkali sadar juga kalau umur lebih gampang disebut daripada dijalani.

Waktu umur belasan, aku pikir tiga puluh adalah usia tante-tante. Usia dimana kehidupan sudah rapi, barangkali terasa seperti rumah yang akhirnya selesai dibangun; lantainya bersih licin serasi dengan warna gorden, dindingnya kokoh, atapnya teduh. Pas dijalani, ternyata hanya bagian jadi tante-tantenya saja yang sesuai bayangan, jangankan membangun rumah, aku bahkan belum tau selama ini mengarah ke mana. Sampai usiaku dua puluh-an, aku masih merasa akan ada banyak kesempatan buat memperbaiki arah. Tapi waktu terasa kabur dan tiba-tiba aku kepala tiga. Waktu yang kupikir bisa digunakan untuk memperbaiki, sudah terlanjur lewat.

Di usia ini, aku mulai melihat teman-temanku menua dengan cara mereka sendiri. Seperti sungai yang menemukan arah alir. Mungkin nggak semua punya kehidupan yang “rapi”, tapi paling nggak, apa yang mereka jalani kelihatan lebih jelas bentuknya. Kalau lelah, tau lah lelahnya untuk apa. Sementara aku sampai di usia tiga puluh dengan rencana- rencana setengah jadi, plus kemampuan tidur siang lebih panjang. Seperti genangan.

Hari-hari lewat tanpa bekas. Aku bangun, bergerak, melakukan hal-hal minimum agar tetap masuk akal disebut hidup, untuk kemudian tidur lagi tanpa perasaan telah menyelesaikan sesuatu.

Kadang aku coba menelusuri titik awalnya, kapan tepatnya aku mulai blangsak begini? Tapi semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa memang tidak ada momen besar. Tidak ada ledakan. Tidak ada tragedi tunggal. Barangkali aku memang terlahir begini.

Aku mulai harus terima kalau beberapa pilihan pada akhirnya akan kubawa cukup lama. Setiap keputusan buruk tampak seperti utang yang kayaknya memang nggak mungkin lunas. Dan, apa-apa yang kacau bukan lagi sesuatu yang bisa dibenahi, melainkan bekas luka yang akan selamanya kuajak hidup bersama. Yaudah. Aman aja~

Pada usia ini juga, aku sudah jarang minta mati. Aku jatuh pada kesimpulan bahwa mungkin nggak semua yang hidup harus berarti. Beberapa hanya berlangsung. Nasib juga kayaknya bukan sesuatu yang harus kita pahami apalagi menangkan. Ia hanya sesuatu yang, suka tidak suka, terus terjadi. Nggak tau sampai kapan.

Nggak papa. Aku akan menyapu lantai yang sama berulang-ulang, menambal retak yang besok pasti muncul lagi, atau menaruh ember di bawah bocor yang entah kapan bisa kubenahi. Begitulah mungkin cara hidup bekerja. Dan, dengan segala yang setengah jadi ini, nggak papa kalau memang aku tidak sedang menuju apa-apa. Hidup aja. Jalan aja.

Senapas demi senapas. Sehari, dan sehari lagi.


Comments

Baca Juga:

Selamat Buat Pernikahanmu, Ndul!

Dari Aan Mansyur

Seorang Kawan dari Medan