Melihat kawan dekatmu menikah rupanya membawa perasaan yang cukup kompleks. Pernikahan Gandul adalah momen pertama yang membuatku sadar akan perasaan itu. Ada gembira, tentu. Ada haru. Dan sesuatu yang tadinya ingin kusebut ‘sedih’—meski kemudian aku rasa kurang tepat. Barangkali ia hanya kecemasan yang menyamar. Kalau Gandul dipek Majid, aku tanggung jawab siapaa😠Tapi lebih dari itu, melihat bagaimana ia patah dan sembuh secara produktif (alias bola-baliğŸ˜) sampai akhirnya di titik sekarang, rasanya begitu lega. Di kepalaku, ia kawan paling expert soal asmara. Pengalamannya luar biasa, dan seperti yang kita tau, nggak harus selalu berhasil untuk dibilang expert . Kegagalan juga sesuatu yang sah kita sebut pengalaman, malah katanya paling mahal, wkwk. Pun memang, nggak semua orang punya sesuatu yang layak dikenang dengan begitu menyakitkan. Meski di depannya aku sering bilang kelakuannya bodoh, ada bagian lain dalam diriku yang memberinya tepuk tangan untuk semua keb...
‘Anjing! Hidup berjalan lebih jauh dari yang kukira, dan tak pernah sampai pada apapun.’ Suara itu datang dari kepalaku, saat seorang kawan membuka obrolan. “Jan, taun ini kamu 31” Aku menatapnya, dia menutup muka. Barangkali sadar juga kalau umur lebih gampang disebut daripada dijalani. Waktu umur belasan, aku pikir tiga puluh adalah usia tante-tante. Usia dimana kehidupan sudah rapi, barangkali terasa seperti rumah yang akhirnya selesai dibangun; lantainya bersih licin serasi dengan warna gorden, dindingnya kokoh, atapnya teduh. Pas dijalani, ternyata hanya bagian jadi tante-tantenya saja yang sesuai bayangan, jangankan membangun rumah, aku bahkan belum tau selama ini mengarah ke mana. Sampai usiaku dua puluh-an, aku masih merasa akan ada banyak kesempatan buat memperbaiki arah. Tapi waktu terasa kabur dan tiba-tiba aku kepala tiga. Waktu yang kupikir bisa digunakan untuk memperbaiki, sudah terlanjur lewat. Di usia ini, aku mulai melihat teman-temanku menua dengan cara mereka sendiri...
Nemu tulisan Aan Mansyur, kurang lebih begini; Jika di suatu persimpangan, entah di mana, kau bertemu masa kecilmu sedang duduk bersedih, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Dan, berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih—mengetahui kau masa depannya? Aku lupa judul bukunya, yang jelas, Aan Mansyur betul-betul telek kuda.
Kalau kamu pernah tinggal di Jogja, kamu barangkali setuju bahwa jalanan di kota ini ajaib selepas hujan. Saat basah, entah bagaimana, tiap sudutnya menjelma cermin . Ia memantulkan kelebat-kelebat hari lalu , kadang terang dan bising, kadang muram dan hening. Aku nggak tau gambaran mana yang muncul di kepala Omplong waktu kemarin pulang ke sini, atau mungkin justru nggak ada sama sekali sebab d ia nggak cukup sentimentil perkara begituan. (Oh, aku menyebut kedatangannya dengan ‘pulang’ agar ia tau ia selalu boleh menganggap tempat ini sebagai rumah.) Konon, manusia memang lahir dengan pilihan. Tapi ada yang namanya “ketarik showroom” , istilah Yunani buat orang yang merantau lalu dipaksa pulang. Umumnya, itu nasib yang melekat buat orang-orang yang lahir sebagai anak terakhir. Jaga rumah, ngurus orang tua, melanjutkan bisnis keluarga, atau satu dua alasan lain. Nah, nasib inilah yang menimpa Omplong, kawanku dari...
Comments