Posts

Sehari, dan Sehari Lagi

‘Anjing! Hidup berjalan lebih jauh dari yang kukira, dan tak pernah sampai pada apapun.’ Suara itu datang dari kepalaku, saat seorang kawan membuka obrolan. “Jan, taun ini kamu 31” Aku menatapnya, dia menutup muka. Barangkali sadar juga kalau umur lebih gampang disebut daripada dijalani. Waktu umur belasan, aku pikir tiga puluh adalah usia tante-tante. Usia dimana kehidupan sudah rapi, barangkali terasa seperti rumah yang akhirnya selesai dibangun; lantainya bersih licin serasi dengan warna gorden, dindingnya kokoh, atapnya teduh. Pas dijalani, ternyata hanya bagian jadi tante-tantenya saja yang sesuai bayangan, jangankan membangun rumah, aku bahkan belum tau selama ini mengarah ke mana. Sampai usiaku dua puluh-an, aku masih merasa akan ada banyak kesempatan buat memperbaiki arah. Tapi waktu terasa kabur dan tiba-tiba aku kepala tiga. Waktu yang kupikir bisa digunakan untuk memperbaiki, sudah terlanjur lewat. Di usia ini, aku mulai melihat teman-temanku menua dengan cara mereka sendiri...

Seorang Kawan dari Medan

Kalau kamu pernah tinggal di Jogja, kamu barangkali setuju bahwa jalanan di kota ini ajaib selepas hujan. Saat basah, entah bagaimana, tiap sudutnya menjelma cermin . Ia memantulkan  kelebat-kelebat  hari lalu , kadang  terang dan bising, kadang muram dan hening. Aku nggak tau gambaran mana yang muncul di kepala Omplong waktu kemarin pulang ke sini, atau mungkin   justru  nggak ada  sama sekali sebab   d ia nggak cukup sentimentil perkara begituan. (Oh, aku menyebut kedatangannya dengan ‘pulang’ agar ia tau ia selalu boleh menganggap tempat ini sebagai rumah.) Konon, manusia memang lahir dengan pilihan. Tapi ada yang namanya  “ketarik showroom” , istilah  Yunani  buat orang yang merantau lalu dipaksa pulang. Umumnya, itu nasib yang melekat buat orang-orang yang lahir sebagai anak terakhir.  Jaga rumah, ngurus orang tua, melanjutkan bisnis keluarga, atau satu dua alasan lain.  Nah, nasib inilah yang menimpa Omplong, kawanku dari...
Dibilang very nice sama mbak bosor. Diucapin selamat bulan lahir sama pak kaji, diingetin isi baterai dan hati-hati sama Barci. Motorku diisekke angin, dicek remnya sama Nopi. Dibaleni dari Babarsari ke UPN karna semelang aku ra isa nyebrang. Difotoin candid banyaaakkk sekali sama mbamel karna katanya, kasian aku nggak punya foto. Dibilangin masadi buat bandel-bandelin perasaan biar bertahan. Oh, hari-hari yang manis, dan hangat… Rasa-rasanya, kerap kali aku bilang nggak punya temen tiap bergurau. Padahal kalau menengok ke belakang, momen demi momen, kayaknya aku ni hidup dari teman-temanku. Jahat sekali kalau aku selalu bilang begitu, saat satu-satunya yang bisa aku kasih kembali ialah pengakuan bahwa aku hidup dari mereka. Huhu, sayang banget sama teman-temanku. Semoga mereka semua disayang tuhan dan dikasih banyak yang baik-baik 🥹🍀

Hemingway Si Paling Sial

Setiap mulai ada perasaan kamu dijahati semesta sebab ia menjadikanmu manusia paling sial, ingatlah bahwa barangkali kamu hanya di urutan ke dua. Kamu bukan yang paling sial sedunia. Sebab manusia ultra sial macam apa, selain Hemingway, yang bisa-bisanya kejatahan mengalami dua kali kecelakaan pesawat dalam sekali hidup? Salah satu dari kecelakaan itu bahkan tidak hanya meninggalkan nyeri dan luka di tubuh, tetapi juga merenggut separuh jiwanya.  Kupikir, setidaknya tumbuh dewasa dengan orang tua yang begitu jauh dari konsep parenting kekinian telah melatihnya jadi mahir menghadapi getir. Rupanya, sesering apapun menghadapinya, tiap luka punya sakit yang berbeda. Ia selamat dari maut tetapi hidup dengan membawa rasa sakit kemana-mana. Hari ke hari yang dijalani barangkali cuma soal perpanjangan, bukan hadiah, bukan kemenangan. Ia kerap menulis soal keberanian, soal bertahan, tapi kita taulah, hidup tak selalu berjalan sesuai narasi yang kita bangun sendiri. Pada akhirnya, semesta b...

Dari Aan Mansyur

  Nemu tulisan Aan Mansyur, kurang lebih begini; Jika di suatu persimpangan, entah di mana, kau bertemu masa kecilmu sedang duduk bersedih, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Dan, berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih—mengetahui kau masa depannya? Aku lupa judul bukunya, yang jelas, Aan Mansyur betul-betul telek kuda.

Malam Jatuh di Surabaya

Surabaya ternyata tidak sepanas reputasinya. Hahaha Dua hari aku singgah di kota itu, dua hari pula ia diguyur hujan. Aku nggak tau sih dia memang ingin mencoba ramah aja atau kenapa. Tapi toh memang banyak hal tidak langsung menunjukkan wataknya pada perjumpaan pertama. Termasuk manusia. Barangkali kota ini juga. Surabaya nggak ada mirip-miripnya dengan Jogja; tempatku tinggal. Di sini, jalan raya termasuk lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan dan hunian vertikal berbaris macam parade hutan beton. Kalau Jogja seperti seseorang yang mengajakmu duduk berbincang, Surabaya layaknya orang yang berseru;  “sing obah tanganne, ora cangkem-e!!” Sebenarnya, aku terbilang mumpuni dalam hal memutus silaturahmi, tapi kali ini berbeda. Nggak tau kenapa. Jadilah sehari sebelumnya aku menghubungi Togok, minta diajak ke tempat yang ikonik dari kota ini, nggak perlu istimewa, sebagaimana  Filkop , atau  Olive Chicken  di Jogja. Yang tidak kubayangkan, ia membawa...

Selamat Buat Pernikahanmu, Ndul!

Melihat kawan dekatmu menikah rupanya membawa perasaan yang cukup kompleks. Pernikahan Gandul adalah momen pertama yang membuatku sadar akan perasaan itu. Ada gembira, tentu. Ada haru. Dan sesuatu yang tadinya ingin kusebut ‘sedih’—meski kemudian aku rasa kurang tepat. Barangkali ia hanya kecemasan yang menyamar. Kalau Gandul dipek Majid, aku tanggung jawab siapaa😭 Tapi lebih dari itu, melihat bagaimana ia patah dan sembuh secara produktif (alias bola-bali😭) sampai akhirnya di titik sekarang, rasanya begitu lega. Di kepalaku, ia kawan paling  expert  soal asmara. Pengalamannya luar biasa, dan seperti yang kita tau, nggak harus selalu berhasil untuk dibilang expert . Kegagalan juga sesuatu yang sah kita sebut pengalaman, malah katanya paling mahal, wkwk. Pun memang, nggak  semua orang punya sesuatu yang layak dikenang dengan begitu menyakitkan. Meski di depannya aku sering bilang kelakuannya bodoh, ada bagian lain dalam diriku yang memberinya tepuk tangan untuk semua keb...
Aku tidak sungguhan ingat apa yang kamu bisikkan waktu itu. Tapi setelahnya, aku berjalan begitu lamban dari malam ke malam, sebab rasanya kesedihan begitu lalu lalang.

Dari Gus Baha (2)

  -Belajar merasakan kalimat kalimat tuhan yang tidak difirmankan. Yang bisa dipahami dengan akal sehat, kepekaan, dan kelembutan hati. Tuhan kan nggak mungkin cuma bilang ke Musa ‘ pukulkan tongkatmu ke laut! ” Pasti ada bagian tuhan bilang ke laut ‘ nanti kalo kena tongkat musa kamu minggir ya!” - Nabi nggak pernah menghukumi hal hal yang sifatnya sosial. Karena sosial itu dinamis, nabi ingin umatnya memakai logika. -Muslim itu kalau merayakan sesuatu, orientasinya sebagai hadiah atas tauhidnya, biar dia inget bahwa islam nggak kalah menyenangkan. Biar inget bahwa ini semua minallah dan akan kembali ilallah.

Tubuh dan Memori

Ajaib sekali bagaimana  tubuh dapat mengingat sesuatu lebih baik dari yang dapat dilakukan otak kita. Otakku bisa memberiku ingatan yang keliru, sepotong-sepotong, bias, atau sederhana; memang denial saja. Tapi tubuhku tidak. Sistem syaraf, hormon, imun, tiap jaringan di tubuhku dapat menyimpan ingatan yang jujur. Barangkali karena tubuh tidak punya kepentingan untuk terlihat baik-baik saja. Ia semesta kecil yang selalu memberi tanda, namun aku sering luput mendengarkannya.

Dari Sabrang MDP (2)

  -Harus menjadi khilafah untuk diri sendiri, tanpa dikontrol orang lain, tanpa tekanan kolektif dari luar. -Mengenali apa yang kamu sukai, apa yang kamu inginkan, bagaimana kamu menjalaninya, bagaimana kamu akan membawa keluargamu. -Manusia terdiri dari campuran serbuk dalam dirinya. Ada serbuk setan, nafsu, tuhan, malaikat, orang lain, dll. Tiap kamu mendengar sesuatu dalam kepalamu berkecamuk, kenali suara dari serbuk yang manakah itu? Apakah itu nafsumu? Keluhan batinmu sendiri? Apakah itu cita-cita murnimu? Apakah itu tuntutan orang di sekitarmu?

Rokok Mengikatmu

Seorang kawan nanya buat pemula enaknya rokok apa? Aduh, fren, kalau kamu nggak ngerokok, sudah betul, ngga usah nyobain. Atau, kalau kamu keukeuh dan merasa kamu bakal bisa mengontrol diri, kamu harus paham kata ‘kecanduan’. Dia mengikat, nggak sama kayak kebiasaanmu makan gorengan atau jajan boba. Aku berulang kali nanya ke diri sendiri kenapa aku merokok dan nggak pernah nemu alesannya, satu-satunya jawaban paling kuat, ya memang cuma karena badanku terlanjur butuh nikotinnya buat rekreasi. Aku terima itu, tapi juga sadar betul alasan itu nggak akan sebanding sama resiko yang bisa jadi harus aku hadapi nanti-nanti.

Genetik Menurunkan Trauma

Apa yang ada di tubuh kita, termasuk traumanya, bukan cuma turunan dari ayah ibu, tetapi bisa potongan-potongan dari generasi jauh sebelum kita. Misalnya, secara alamiah, beberapa manusia takut gelap atau takut ketinggian. Bisa jadi dia nggak bisa nyebutin pengalaman buruk apa yang pernah dia alami sampai bikin dia takut. Tanpa ada yang ngajarin, dari kecil manusia tau berada dalam kegelapan atau ketinggian itu suatu kondisi bahaya. Yang kayak gitu bisa jadi adalah bentuk trauma yang diturunkan, barangkali pada suatu masa pas evolusi, simbahmu disruduk macan peteng-peteng atau tiba seka njurang pas berburu kidhang. Salah satu yang aku belum nemu jawabannya tapi penasaran banget adalah, kenapa aku takut banget sama isilop wkwkwk
  Kalau kamu mengalami luka ringan, otak ngeluarin hormon kebahagiaan buat coping perasaan stress dan panikmu. Namanya oxitosin. Itulah kenapa beberapa orang merasa makan yang pedes-pedes itu nyenengin dan nagih. Kandungan Palacid dari biji cabe, bikin otak ‘mengira’ lidahmu terbakar. Makin kamu kepedesan, makin banyak oxitosin yang diproduksi otakmu—makin kamu ingin terus melakukannya. Kalau kamu nggak habis pikir ngapain orang bisa-bisanya self harm, mungkin mekanisme itu bisa sedikit ngasih kamu gambaran. Menurutku pilihannya dua, kita mau peduli atau cuek sekalian. Bukan julid.

Harapan Palsu Buat Si Rentan

Ngomong-ngomong, ada satu   scene  yang nempel banget di kepalaku pas nonton   season   awal Peaky Blinders. Tom Shelby, yang masih jadi bandar judi, ngobrol sama temennya yang kumuniz. Dengan  setting  tahun segitu, nggak aneh sih kalau mereka sama-sama buron, cuman temennya bingung, kok bisa komunis sama bandar judi namanya ada dalam satu  list ? Padahal itu bentuk pelanggaran hukum yang menurutnya berbeda.  Tom ngangkat sloki sambil nyeletuk; “ Kayaknya karna kita sama-sama tukang ngasih harapan palsu ke orang miskin” Wkwk bjiiir lah mulutnya Tom😂 Tapi kalau dipikir-pikir, kayaknya aku ketawa karna ada perasaan ‘lah iya juga’ deh pas denger. Orang miskin selalu jadi pasar buat janji manis. Katanya revolusi, katanya kesetaraan, katanya, kalau kamu punya cukup keberuntungan, hidup bisa berubah dalam satu malam. Dua hal itu, sama-sama macam orang yang menepuk bahu rentan kita trus bilang “udah percaya aja, besok akan lebih baik!” Pada akhirnya, j...
Aku lupa banget nemu dimana tapi tiba-tiba merasa harus tak tulis. Kata Bukowski, mending kita udahanlah nyari-nyari yang sesuai mimpi, paling nggak, dapet yang bukan mimpi buruk aja harusnya cukup.

Pamplona

Di season terakhir Money Heist, Matias Cano minta dikasih nama kota juga kayak yang lain, biar keren dan nggak kayak rampok magang . Pas ditanya mau nama apa, dia nyebut ‘Pamplona’—yang lantas diketawain karena, buat perampok, penyebutannya jauh dari kesan garang.  Tapi dia keukeuh, katanya, itu tempat keren. Festival adu banteng paling meriah adanya di sana. Tempat orang berlari dan bersorak. Kehidupan yang brutal, tapi indah. Hemingway, di novelnya yang berjudul “Fiesta” juga pakai kota itu buat latar. Dia menjadikan kota ini ruang  pelarian buat tokoh-tokohnya yang terluka oleh perang, cinta yang sial, dan maskulinitas yang rombeng. Itu kota tempat luka batin dipoles jadi perayaan. Tempat orang-orang sadar kalau apapun yang kita alami, besok tetap harus bangun. Fiesta; dan matahari pun terbit .
Setiap hari selalu bersyukur dikasih hidup yang enak begini. Masih sehat, ora nangisan, punya pekerjaan, teman-teman yang menerimaku—yang rajin memberi kabar meski baru akan terbalas dua hari kemudian, bisa makan apa-apa yang dipingini, tinggal di rumah rasah mbayar kos, wira-wiri numpak vario ra kudu nyicil wong dicepakke bapak, masiyo langganan nyurung karena hobiku kentekan bensin. Puji gusti, puji gusti  ✨

Menikah Dengan Bantal

  “ Mungkin hidup semua orang, akan lebih mudah jika kita boleh menikah dengan bantal yang menyangga kepala kita tiap malam” —kata Norman Erikson, di bukunya yang aku lupa apa judulnya. Ya, kuharap semua orang, termasuk kamu dan aku, menemukan ia yang turut mengamini doa-doa, menyimpan aroma shampoo yang kita sukai, merindukan kita di siang hari, menyerap keringat, liur, dan air mata, sambil berbisik ke telinga kita di malam yang murung;  ‘berbahagialah...berbahagialah’ .

Dari Sabrang MDP

  -Hidup itu kalau nggak bisa mencapai apa apa yang penting survive. - Sarikh-eksplisit. Dahulukan amalan yang sarikh: qur’an, hadits (sholat, zakat) baru yang riwayat (ngasih minum anjing, nyingkirin duri) -Mengumpulkan uang buat memfasilitasi pergerakan itu konsep sederhana, mudah. Yang sulit bagaimana tiap orang tergerak melakukannya dengan tangan sendiri. -Harus membuat batasan buat diri sendiri. Mau sejauh mana. Biar tau kamu melakukannya karna pilihan atau cuma keseret.