Sehari, dan Sehari Lagi
‘Anjing! Hidup berjalan lebih jauh dari yang kukira, dan tak pernah sampai pada apapun.’ Suara itu datang dari kepalaku, saat seorang kawan membuka obrolan. “Jan, taun ini kamu 31” Aku menatapnya, dia menutup muka. Barangkali sadar juga kalau umur lebih gampang disebut daripada dijalani. Waktu umur belasan, aku pikir tiga puluh adalah usia tante-tante. Usia dimana kehidupan sudah rapi, barangkali terasa seperti rumah yang akhirnya selesai dibangun; lantainya bersih licin serasi dengan warna gorden, dindingnya kokoh, atapnya teduh. Pas dijalani, ternyata hanya bagian jadi tante-tantenya saja yang sesuai bayangan, jangankan membangun rumah, aku bahkan belum tau selama ini mengarah ke mana. Sampai usiaku dua puluh-an, aku masih merasa akan ada banyak kesempatan buat memperbaiki arah. Tapi waktu terasa kabur dan tiba-tiba aku kepala tiga. Waktu yang kupikir bisa digunakan untuk memperbaiki, sudah terlanjur lewat. Di usia ini, aku mulai melihat teman-temanku menua dengan cara mereka sendiri...